Showing posts with label terma. Show all posts
Showing posts with label terma. Show all posts

Thursday, April 12, 2018

Bespoke, MTM, Dan Identitas Sistem Tailoring Kita

Sebagai sebuah bidang usaha (Trade),  dalam Tailoring lazim dikenal ada 3 sistem, yaitu Bespoke, Made to Measure (MTM) dan Ready To Wear (RTW). Setiap sistem punya suatu ciri pembeda (difresiansi) dengan sistem lainnya. Dari ciri-ciri pembeda ini kita dapat mengetahui identitas Sistem Tailoring sebuah Tailor.

Semakin maju dunia Tailoring sebuah negara, semakin mudah pula ciri-ciri pembeda ini untuk di-identifikasi. Disamping karena kebanyakan Tailor di negara tersebut mendeklarasikan secara tegas Sistem Tailoring yang dipakai, juga karena tingkat pemahaman pelanggannya yang juga tinggi dalam dunia Taioring.

Kondisi seperti diatas, berbeda dengan apa yang ada di negara kita. Jangankan kustomer/pelanggannya, kalangan penjahit pun kemungkinan masih banyak yang kurang paham dengan istilah bespoke, MTM, RTW atau istilah-istilah Tailoring lainnya. Beberapa diantaranya memahaminya dengan saling tertukar antara satu dengan istilah lainnya.

Bagi penjahit, dalam melakukan pekerjaan sehari-harinya,  memahami istilah-istilah ini sebenarnya tidaklah terlalu penting. Toh pemahaman, kemampuan dan kebutuhan tailoring sebagian besar masyarakat belum menuntut ini. Tetapi di dunia maya, dimana batas-batas teritorial negara menghilang dan kita seringkali berinteraksi dengan penjahit dari negara lain, barangkali ada baiknya bagi kawan-kawan penjahit untuk memahami ketiga Sistem Tailoring diatas beserta difresiansinya.

Bespoke Tailoring.

Pada jaman dulu, ketika seorang pelanggan membutuhkan sebuah pakaian, maka dia akan mendatangi tailor shop langganannya. Di dalamnya, pelanggan bisa memilih bahan yang tersedia (juga bisa memesan bahan khusus) disana. Pelanggan kemudian bisa berdiskusi dan berkonsultasi dengan Tailor tentang jenis pakaian dan style yang diinginkannya. Tailor kemudian membuat pakaian pelanggan tersebut mulai dari nol, termasuk membuat pola dan fitting-nya. inilah hubungan dan cara kerja tradisional sebuah usaha (trade) Tailoring. Dan sistem kerja tradisional seperti inilah yang disebut sebagai Bespoke Tailoring.


Bespoke berasal dari kata be-speak (bicara / bicarakan), maksudnya bicaralah pada tailor akan kebutuhan pakaian anda, baik itu peruntukan acara, bahan, style dan hal-hal detail lainnya. Artinya adalah bahwa tiap pakaian yang dihasilkan oleh Tailor yang menggunakan Sistem Bespoke sangatlah personal. Pakaian itu dijahit hanya dan hanya untuk anda, dengan mengakomodasi ukuran,  selera, gaya dan kebutuhan anda. Pakaian ini mungkin tidak akan fit bila dipakai orang selain anda.

Bespoke Tailoring punya hubungan kerjasama khusus dengan produsen bahan/kain. Pelanggan bisa memesan kain dengan komposisi campuran bahan tertentu (wool dan sutra misalnya) atau motif dan tekstur yang khusus. Kita tentu ingat dengan kasus yang sempat viral di dunia tinju, dimana Connor Macgregor (lawan Floyd Mayweather), ketika timbang badan memakai setelan  jas dengan motif stripe (garis-garis) yang ketika di-zoom ternyata garisnya berupa deretan huruf yang membentuk kata yang tidak senonoh.

Pemesanan bahan khusus seperti ini, hanya bisa dilakukan di sistem Bespoke Tailoring. Bisa dilakukan oleh Tailor itu sendiri, untuk medefinisikan ciri khas atau style tailor shop-nya atau dilakukan oleh pelanggan untuk mengakomodasi selera dan kepribadian personalnya. Semakin maju sebuah tailor, biasanya semakin banyak pilihan bahan yang bisa disesuaikan. Saking banyaknya, katalog bahannya bisa disebut sebagai "perpustakaan" bahan.

Kustomisasi semacam ini, dalam Bespoke Tailoring tidak terbatas pada bahan utamanya saja, tapi juga termasuk tiap bagian dan detail aksesorinya. Mulai dari bahan furing/lining, model saku, dasi, square pocket bahkan sampai ke pemilihan sepatunya.


Proses pengerjaan pakaian pada sistem ini umumnya membutuhkan waktu yang lama. Mulai dari membuat pola, fitting yang berkali-kali sampai jadi sebuah pakaian siap pakai, bisa menempuh waktu beberapa minggu atau juga bulanan.

Kustomisasi tiap detail dari pakaian dan tetek bengeknya ini jugalah yang menjadikan pakaian hasil Bespoke Tailoring sangatlah personal dan eksklusif. Dan eksklusifitas biasanya berbanding lurus dengan tingginya biaya.

Ready To Wear (RTW)

Revolusi industri yang terjadi di eropa berdampak pada meningkatnya kesejahteraan dan kebutuhan pakaian orang-orangnya. Tingginya kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi oleh tailor yang memakai sistem tradisional (Bespoke). Terciptalah sebuah Sistem Tailoring yang memungkinkan untuk memproduksi pakaian secara massal. Sistem produksi massal inilah kemudian dikenal dengan nama Ready To Wear (RTW). Atau disebagian belahan dunia lain ada yang menyebutnya dengan "off the rack (OTR)".
Jas rtw

Dalam sistem RTW, pakaian dibuat mengikuti standar kebanyakan orang. Ukurannya di kategorisasi menjadi size-size tertentu. Biasanya yang di jadikan acuan adalah ukuran lingkar dada dan panjang baju untuk pakaian atasan,  dan lingkar perut untuk bawahan.

Proses pengerjaan pakaian jenis ini dilakukan secara massal, seringkali mengandalkan kemampuan bahan siap pakai, mesin-mesin jahit, alat pressing, dan finishing yang modern. Bagian-bagian pakaian dalam sistem ini dikerjakan secara terpisah. Para pekerjanya tidak dituntut memiliki pengetahuan yang menyeluruh tentang proses pembuatan pakaian. Yang penting dia menguasai satu bagian tertentu dari proses pembuatan pakaian, misalnya bagian membuat saku saja atau memasang krah saja. Proses pengerjaan sistem RTW ini mampu menghasilkan pakaian dalam jumlah yang lebih besar dalam waktu yang tidak terlalu lama bila dibandingkan dengan sistem tradisional.

Hasil jadi produksi pakaian sistem ini tersedia di toko-toko retail. Pelanggan hanya perlu mendatangi toko-toko tersebut, memilih dan mencobanya, untuk kemudian bisa langsung dibawa pulang. Sederhananya, hasil pakaian ini disebuat pakaian siap pakai.

Bila ada ketidak cocokkan ukuran tertentu, entah panjang lengan, lebar bahu atau yang lainnya, kustomer tinggal membawa pakaian tersebut ke speasialis alterasi atau tukang permak untuk disesuaikan. 

Penggunaan pola yang di standarkan dan kecepatan  pengerjaannya memungkinkan pemangkasan biaya produksi secara signifikan. Oleh karena itu harga pakaian hasil produksi jenis sistem ini relatif jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan hasil produk Bespoke Tailoring.

Made To Measure (MTM).

MTM secara mudahnya adalah jalan tengah dari kedua sistem diatas (Bespoke dan RTW). Dalam sistem Bespoke, disamping kelebihan eksklusifitasnya, punya kekurangan dalam hal biaya. Tidak semua orang butuh pakaian yang eksklusif dan sangat personal, juga tidak semuanya mampu menjangkau biaya produksinya. Dalam sistem RTW, meskipun harga pakaiannya relatif lebih bisa dijangkau semua orang, punya kelemahan dalam hal ukuran yang hanya menyediakan ukuran standar. Sistem MTM mengakomodasi kelebihan dan kekurangan kedua sistem diatas dan memcoba menyediakan titik komprominya.

Tailor yang memakai sistem MTM ini, cara pembuatan pola pakaiannya, sama dengan cara yang dipakai oleh sistem RTW. Yakni pola-pola standar. Dari pola standar ini dibuatlah pakaian-pakaian jadi yang nantinya difungsikan sebagai sarana fitting/pengepasan. Untuk pengerjaan dan penyelesaiannya, sistem yang dipakai bervariasi, ada yang di pecah per bagian seperti RTW, ada juga yang dikerjakan dengan utuh seperti sistem tradisional.

Pelanggan yang datang ke tailor MTM, diambil ukuran dasarnya saja. Untuk kemudian dipersilahkan mencoba pakaian jadi yang sudah dipersiapkan untuk kemudian dilakukan penyesuaian. Misalnya diketahui lingkar dada si pelanggan adalah 100 cm. Berarti kategori ukurannya adalah size 50 (standar itali) atau size 40 (standar inggris). Pelanggan diminta mencoba pakaian jadi sesuai size-nya yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Kemudian Tailor atau pekerjanya membuat catatan tentang penyesuaian-penyesuaian kecil yang perlu dilakukan pada pola standar untuk mengakomodasi ukuran-ukuran atau postur pelanggan yang tidak pas. Catatan ini kemudian di bawa kepada pembuat pola, pola standarnya lalu di modifikasi, untuk selanjutnya bisa dimulai proses pengerjaan pakaian si pelanggan.
Jas made to measure

Pelanggan juga dipersilahkan memilih bahan dan style yang diinginkan, tapi tetap terbatas pada bahan dan style yang sudah dipersiapkan contoh jadinya. Berbeda dengan sistem Bespoke dimana biasanya pengambil ukuran dan pembuat pola adalah orang yang sama, pengambil ukuran untuk sistem MTM bisa dilakukan orang lain, bisa sales toko atau konsultan pakaian. Proses fitting juga dilakukan pada sistem ini.

Hasil pakaian dari MTM ini mungkin tidak se-personal dan se-eksklusif  hasil Bespoke, tetapi lebih aman dari ill-fitting akibat kekurang piawaian pembuat pola. Karena penyesuaian yang dilakukan pada pola standar adalah penyesuaian-penyesuaian kecil/minor saja. Biaya produksi sistem ini relatif lebih rendah,  dan proses pengerjaannya juga lebih cepat dibanding Bespoke Tailoring.

Handmade, Canvassing dan Kualitas.

Banyak yang menganggap handmade (jahitan tangan) dan Canvassing (pelapisan Bubat/Buntut kuda) itu hanya ada pada sistem Bespoke. Bahkan ada juga yang mengira bahwa Bespoke adalah "Teknik Menjahit". Anggapan ini adalah anggapan yang salah kaprah. Benar bahwa semua Bespoke Tailoring adalah handmade dan pastinya menggunakan teknik Canvassing pada pelapisan jasnya. Tetapi kebanyakan MTM papan atas juga menggunakan teknik handmade dan canvassing yang sama, kecuali tentunya RTW yang umumnya menggunakan teknik fusing/lem.


Perbedaan utama antara Bespoke dan MTM adalah pada cara pembuatan pola, pilihan bahan khusus dan keterbatasan style-nya.

Kualitas masing-masing sistem diatas sangat tergantung pada kepiawaian pekerjanya. Umumnya dan idealnya, tentu saja produk Bespoke mestinya lebih fit dipakai dan lebih unggul kualitasnya,  mengingat waktu dan proses pembuataannya. Tapi kenyataannya, tidaklah selalu demikian. Banyak ditemui produk Bespoke yang tidak fit dan kualitas jahitannya sama saja atau lebih rendah dibanding RTW.

Ketiga kategori sistem diatas, menurut saya, bukanlah sebuah ukuran peringkat. Masing-masing sistem punya kesulitan dan tantangan yang berbeda. Dan pelanggan bisa memililh sistem mana yang sesuai dengan kebutuhannya.

Identitas Tailoring Kita.

Pertanyaan selanjutnya, dari ketiga sistem diatas, manakah yang sesuai untuk disebut sebagai identitas tailoring kita?

Sebagaimana kami sebutkan diatas, perbedaan tegas ketiga sistem diatas bisa dengan mudah kita identifikasi pada negara-negara yang bidang Tailoringnya maju. Tetapi batasan-batasan perbedaan ketiganya menjadi agak samar pada negara-negara yang bidang tailoringnya tidak terlalu maju, seperti negara kita, Indonesia.

Sebagian Tailor kita ada yang bisa kita identifikasi dengan mudah. Kebanyakan konveksi, misalnya, bisa kita identifikasi sebagai pengguna sistem RTW atau OTR. Beberapa Tailor papan atas di negara kita juga bisa kita identifikasi sebagai Bespoke Tailoring, walaupun kebanyakan tidak tegas dan terkesan malu-malu mendeklarasikan Sistem Tailoring yang dipakainya.

Sedangkan kebanyakan Tailor (dan mungkin seluruh Tailor kelas menengah), tidak bisa dengan mudah kita identififikasi sebagai MTM atau Bespoke. Dalam cara pembuatan pola, hampir semua Tailor kita menggunakan Sistem Bespoke, dimana untuk tiap satu pelanggan dibuat satu pola. Dalam hal pemilihan bahan dan style yang tersedia, kebanyakan Tailor kita mirip dengan identitas MTM. Sedangkan dalam cara pengerjaannya, walaupun tidak dipecah per- bagian, kecepatan proses dan hasil produknya mungkin setara dengan RTW (termasuk hasil produk kami sendiri). Bingung kan?

Mungkin jawabannya kita bisa meniru istilah yang dipakai di benua amerika. Disana, baik Bespoke maupun MTM, disebut dengan istilah yang sama yaitu Custom Tailoring.  Barangkali inilah identitas yang pas untuk Sistem Tailoring kebanyakan Tailor di negara kita. Kita anggap saja istilah ini sebagai kompromi identitas.

Pada akhirnya, apalah artinya sebuah istilah bagi sebuah identitas. Toh, pelanggan kita tidak terlalu peduli dengan istilah-istilah diatas, selama mereka cocok dan puas dengan produk kita, apapun identitas Tailoring kita, tidak jadi masalah. Tetapi, ada baiknya bagi penjahit untuk memahami istilah-istilah diatas agar tidak menggunakan istilah-tesebut secara tumpang tindih dan menyebutkannya secara salah kaprah.

Catatan tambahan :
Komunitas Tailoring di inggris pernah mengajukan gugatan keberatan pada otoritas periklanan  atas dipakainya istilah "Bespoke" dalam iklan pakaian yang dikerjakan dengan sistem MTM. sayangnya, gugatan ini secara resmi ditolak. Alasan penolakannya adalah karena merujuk kamus dimana Bespoke di artikan sebagai "made by order" (dibuat sesuai pesanan). Jadi menurut otoritas periklanan inggris semua barang yang bisa dipesan sesuai pesanan bisa memakai istilah "Bespoke" dalam iklan mereka.

Walau demikian perbedaan identitas antara MTM dan Bespoke Tailoring mestinya adalah sesuatu yang jelas bagi komunitas Tailoring, termasuk para pembelajarnya.

Salam Pembelajar.








Friday, November 17, 2017

Arti "S" dan "Super" pada kain wool

Arti huruf S pada kain wool

Salam, bila kita ke toko kain untuk membeli wool, biasanya pada brand/merknya ada huruf "S" dan "Super" dibelakang sebuah angka. Ada yang Super 80's, 100's, 120's dan seterusnya. Memahami apa arti nomor dan simbol ini, agaknya perlu, agar tidak salah pilih bahan untuk dibuat sebagai pakaian.

Pengetahuan tentang textile pada umumnya, dan pada kain wool khususnya,  bagi kebanyakan Tailor kelas menengah (seperti kami), harus diakui memang agak rendah. Kami pribadi menganggap ini adalah salah satu "missing link" dari pengetahuan Tailoring kita. Padahal mestinya ilmu ini adalah elemen yang sangat penting. Dengan pemahaman ini, seorang Tailor bisa memberi masukan terbaik pada para pelanggannya berdasarkan pada kebutuhan dan anggaran mereka. Ini juga akan berguna pada proses menjahit sebuah pakaian. Dengan memahami kain, kita bisa tahu watak kain itu ketika dijahit, dan atau disetrika.

Untuk memahami simbol "S" pada kain wool, mau tidak mau, agaknya kita harus merujuk pada info-info dari produsen kain tersebut. Untungnya, untuk jenis wool ada semacam asosiasi yang membawahi para penghasil bahannya, yaitu IWTO (International Wool Textile Organisation). Setelah menelusuri situs tersebut dan mencari info terkait, inilah yang kami dapat.

Simbol "S" dan angka dibelakangnya.

Angka dan huruf S ini adalah penunjuk akan kualitas bahan mentah dari wool sebelum diproses menjadi kain. Dimana semakin tinggi angkanya semakin baik kualitas bahan mentahnya.

Dulunya angka dan simbol ini mengacu berapa banyak gulungan serat yang bisa dihasilkan dari 1 pound (0.45 kg) bulu domba. Satuan hitung yang dipakai adalah "Hanks". Dimana 1 Hank kira-kira sama dengan 510 meter. 80's berarti 80 x 510 = 40.800 meter serat yang bisa dihasilkan dari 0.45 kg bahan. Semakin banyak (panjang) serat yang bisa dihasilkan, semakin tinggi kualitas woolnya. Artinya 80's lebih rendah kualitas bahan mentah woolnya dibandingkan 100's. Dan 120's lebih tinggi kualitasnya dibanding keduanya.

Arti s pada kain wool

Satuan hitung "Hanks" ini adalah hitungan kasar, karena didasarkan pada jumlah gulungan, bukan benar-benar diukur panjangnya. Seiring perkembangan industri textile satuan yang digunakan pun berubah meskipun dengan tetap menggunakan simbol "S". Bila dulu yang dihitung adalah panjang dari serat yang dihasilkan, sekarang yang dihitung adalah diameter dari serat tersebut. Satuan hitungnya menggunakan "mikron". 1 mikron sama dengan seperjuta meter. Semakin kecil seratnya, berarti semakin baik mutu woolnya.

Berikut persamaannya :

"S" (Hanks)                      
Mikron (diameter serat)
80's
19.75
90's
19.25
100's
18.75
110's
18.25
120's
17.75
130's
17.25
140's
16.75
150's
16.25
160's
15.75
170's
15.25
180's
14.75
190's
14.25
200's
13.75

Arti super wool

Pertanyaannya, apakah semakin tinggi angka "S" pada suatu produk kain wool berarti semakin baik kualitas bahannya? Ternyata jawabannya adalah Ya dan  Tidak.

Perlu dicatat bahwa angka "S" adalah merujuk pada BAHAN MENTAH-nya (yang berupa serat), bukan pada produk jadi yang berupa kain. Tergantung dengan proses pemintalan, pewarnaan dan lain-lain. Sangat mungkin serat wool yang berkualitas bagus ini pada proses produksinya dipintal dengan bahan lain yang kualitasnya lain.


Ya, secara umum, bahan mentah yang bagus biasanya menghasilkan yang bagus. Tidak, jika ternyata bahan mentah yang bagus itu diproses dengan buruk.

Wool Super, S, dan aturan (seharusnya) pencantumannya.


Selain simbol "S", kita juga sering menemui kata "Super" pada kain wool. Ini berhubungan dengan presentase bahan lain dalam suatu produk kain jadi. Tujuannya bisa untuk desain, tektur/motif, penguatan dan lain sebagainya. Dikatakan "Super" bila serat campurannya tidak lebih dari 5%. Sedangkan syarat simbol "S", serat campurannya tidak lebih dari 45%.

Permasalahannya, aturan ini mengikat hanya di negara-negara yang mengadopsi standard yang ditentukan oleh IWTO saja. Banyak negara yang tidak memgadopsi aturan tersebut. Oleh karenanya banyak kita temui wool "Super" atau angka "S" yang abal-abal. Bahkan pada beberapa produk, hampir tak ada serat woolnya sama sekali.

Tingginya angka simbol "S" ini juga seringkali berhubungan dengan tingkat kesulitan pengerjaan bahan tersebut untuk menjadi pakaian. Biasanya semakin tinggi angkanya, semakin susah cara menjahitnya.

Analoginya begini, untuk menjadikan diameter serat wool semakin kecil (ingat, semakin kecil diameternya, berarti semakin tinggi angka S-nya), serat ini akan di pilin/pluntir semaksimal mungkin. Bayangkan sebuah kaos yang di pilin/sebanyak mungkin. Akibatnya  kain jadinya akan lebih tipis, lebih padat, lebih halus, tapi juga lebih susah untuk  jahit dan disetrika. Sekali ada kerut ketika menjahit bahan dengan simbol "S" diatas 180's, kerut ini akan sulit dihilangkan dengan manipulasi setrika.

Bagi pelanggan, arti simbol "S" dan "Super" pada kain wool ini  juga berguna untuk menilai tebal tipisnya bahan, sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Semakin rendah angkanya berarti semakin tebal kainnya dan cocok dipakai di daerah atau ruangan yang dingin. Dan begitu juga sebaliknya sebaliknya.

Salam Pembelajar.

Thursday, August 24, 2017

Jas dan blazer, dimana bedanya?

Beda jas, blazer dan almamater
Salam,
Istilah jas dan blazer termasuk diantara istilah yang sering menimbulkan kebingungan. Perbedaan antara keduanya memang agak samar bagi kebanyakan orang. Kesamaran ini kemudian diperparah dengan banyaknya tumpang-tindih penggunaan istilah keduanya di banyak tempat, dilakukan  oleh banyak pihak, baik tailor sendiri, pedagang online dan customer itu sendiri. 

Kita ambil satu contoh, KBBI (sebagai salah satu kamus resmi Bahasa Indonesia) misalnya, memberikan definisi jas sebagai 
Sedangkan blazer didefinisikan sebagai 
Bila merujuk pendefinisian diatas, dapatkah anda menarik garis tegas perbedaan antara keduanya?
Bahkan, bila dilihat dari sudut pandang Tailoring, definisi Blazer menurut KBBI diatas agak menyesatkan. Seolah-olah Blazer adalah pakaian untuk wanita saja. Padahal yang benar, Blazer bisa dipakai baik pria ataupun wanita. Demikian juga jas (bisa dipakai pria ataupun wanita). 

Malah ada beberapa blog yang saya baca menyatakan bahwa blazer adalah jenis pakaian yang berasal dari Korea (???). Benar-benar ajaib!

Baiklah, sekarang mari kita bedah bersama apa perbedaan antara jas dan blazer. 

Untuk memudahkannya, terlebih dahulu saya persilahkan anda untuk membaca Sejarah Blazer. Karena dengan membaca dua versi kisah tentang asal usul blazer di tautan itu, kita akan mudah menarik benang merah perbedaan antara jas dan blazer.

Benang merah perbedaannya adalah :
  • Dari kisah yang pertama: 
- blazer dipadukan dengan celana yang tidak sama warnanya.
- blazer menggunakan warna-warna yang non-tradisional.
- blazer menggunakan variasi-variasi yang seringkali mencolok mata.
  • Dari kisah kedua:
-blazer, meskipun dipakai dengan celana berwarna senada, tetapi memiliki attribut tertentu yang menunjukkan identitas suatu institusi tertentu.
-blazer, dari segi cutting/potongan punya variasi yang sama dengan jas (bisa single breast, double breast, berkrah notch, atau peak, dan lain sebagainya)
-warna biru tua/blue navy adalah warna standard untuk blazer.

Dari benang merah perbedaan diatas kita bisa menarik beberapa garis tegas yang menjadikan blazer berbeda dengan jas dari segi warna dan variasinya.

Selain perbedaan diatas ada satu hal utama yang menjadikan blazer berbeda dengan jas, yaitu peruntukan acara pemakaiannya, resmi atau tidaknya.

Jas dipakai untuk acara yang bersifat formal/resmi. Sedangkan blazer dipakai untuk acara yang semi formal/tidak terlalu resmi.

Secara gampangnya, bila kita ragu apakah sebuah pakaian itu disebut jas atau blazer, kita bisa pecah dengan mengajukan beberapa pertanyaan berikut :
  • Apakah ia dipadukan dengan celana yang berwarna sama? Bila tidak, maka bisa dipastikan itu blazer.
  • Apakah ia mempunyai variasi-variasi yang mencolok (misalkan lis atau kancing yang berwarna kontras)? Bila ya, maka ia adalah blazer.
  • Apakah ia memiliki attribut tertentu (badge atau logo) sebuah institusi? Bila jawabannya ya, maka (meskipun  dipadukan dengan celana yang sewarna) ia adalah blazer.
  • Apakah jenis peruntukan acaranya, resmi atau setengah resmi? Bila untuk acara yang semi formal maka ia adalah blazer.
Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan diatas, sekarang kita bisa mudah mengenali mana itu blazer dan mana itu jas. Misalnya, untuk menjawab pertanyaan yang cukup sering diajukan pada saya, 
"Apakah  almamater mahasiswa itu termasuk jas atau blazer?"

Dengan merujuk pertanyaan-pertanyaan pembeda yang kita sebutkan diatas, sekarang kita bisa dengan mudah menyatakan bahwa almamater adalah termasuk dalam jenis Blazer. Bukan Jas.

Salam Pembelajar.

Wednesday, August 23, 2017

Sejarah blazer

Salam,
Blaser adalah pakaian atasan seperti jas yang bersifat semi formal. Dipercaya nama atau istilah Blaser (dan mungkin sebagian besar nama/istilah pakaian lainnya) ini muncul pertamakali di Inggris. Ada banyak versi sejarah tentang munculnya nama atau istilah blaser. Tetapi yang paling masyhur dan dipercaya, ada dua. 

VERSI PERTAMA.
Kisah pertama datang dari sebuah universitas ternama di inggris, Saint Jhon College, Cambridge. Di universitas ini pada tahun 1825 didirikan sebuah club dayung yang beranggotakan 12 orang dengan nama Lady Margaret Boat Club. Club dayung ini mempunyai seragam yang tidak lazim ketika itu. Potongannya seperti jas biasa namun berwarna merah menyala (pakaian masyarakat inggris ketika dikenal menghindari warna-warna non- tradisonil yang mencolok), dengan lis/pipa pinggiran lapel berwarna putih, kancing yang berwarna emas atau perak, dan dipadukan dengan celana berwarna putih.

Asal usul sejarah blaser

Sebagai sesuatu yang tidak lazim, seragam club dayung ini kemudian menjadi buah bibir masyarakat ketika itu. Mereka menyebutnya "Blazer", berakar dari kata Blaze yang berarti menyala atau menyilaukan.

Club dayung Lady Margaret Boat Club ini masih ada sampai sekarang dan tetap memakai seragam yang sama dengan para pendahulunya.

VERSI KEDUA.
versi kedua datang dari pasukan kerajaan Inggris, lebih tepatnya dari divisa angkata laut yang bernama H.M.S Blazer.

Pada tahun 1837, dalam rangka menyenangkan Ratu Inggris ketika itu yang akan melakukan inspeksi pasukan, Komandan pasukan H.M.S Blazer ini mewajibkan anggotanya menyeragamkan pakaian pasukannya (ketika itu angkatan laut Inggris tidak punya seragam standard resmi). Seragam itu berpotongan jas double-breast berwarna biru tua/blue navy, juga dengan kancing dari kuningan dengan logo angkatan laut.

Blue navy blazer

Upaya komandan pasukan H.M.S Blazer ini berhasil. Ratu Victoria sangat terkesan dengan seragam itu dan kemudian menyuruh seluruh angkatan lautnya mengenakan seragam yang sama. Sampai sekarang warna biru tua yang sama, dianggap sebagai warna standard bagi Blaser dan disebut sebagai blue-navy.

Itulah dua versi tentang sejarah penamaan/istilah Blazer. Dari segi tahun, kita bisa lihat bahwa versi Lady Margaret Boat Club terjadi lebih awal dibandingkan versi H.M.S Blazer. Meskipun demikian, yang paling masyhur dan dipercaya di dunia Tailoring adalah yang kedua, yaitu versi H.M.S Blazer. Perlu dijadikan pertimbangan  juga bahwa trend setter cara berpakaian masyarakat inggris ketika itu adalah kalangan bangsawan. 

Sekian, dan Salam Pembelajar

Sunday, July 23, 2017

Jenis Sistem Pola

Salam,
Salah satu tahapan penting dalam proses Tailoring adalah membuat Pola. Setiap tailor biasanya punya pola yang sedikit banyak berbeda dengan tailor lainnya, tergantung jenis Sistem Pola yang ia gunakan. Metode membuat pola inilah yang disebut sebagai Sistem Pola. 

Sebuah pola dibuat setelah tahapan pengambilan ukuran selesai dilakukan. Meskipun pengambilan ukuran dan pembuatan pola adalah tahapan yang terpisah, namun satu sama lain punya saling keterkaitan yang sangat erat. Bisa dikatakan keduanya adalah satu paket yang utuh. Kenapa? Karena jenis Sistem Pola inilah yang menentukan ukuran apa saja yang perlu diambil.

Diantara Sistem Pola yang telah terkenal antara lain: C&T, Asz, Panaro, Paulin, meyneke dan lain sebagainya. Tetapi bila bila dilihat dari jenis metodenya, bisa di sederhanakan jadi dua atau tiga Sistem Pola saja. Mari kita perjelas satu persatu.

Sistem Langsung.
Sistem Langsung ialah Sistem Pola yang pembuatan polanya diambil dari ukuran klien/model dengan detail. Sistem ini tidak mengenal rumus. Tiap bagian tubuh klien/model diukur secara terperinci untuk kemudian diterapkan secara langsung pada pola. Sistem ini tidak memgenal rumus. Artinya, Setiap garis pola yang dibuat dengan menggunakan Sistem Pola ini adalah adaptasi langsung dari anatomi klien/model. Misalkan untuk menentukan jarak antara Garis Dada dan Garis Pinggang, Sistem Pola ini langsung mengukur jarak antara Garis Dada dan Garis Pinggang pada tubuh si klien/model. Karena itu, dibanding Sistem Pola ini membutuhkan ukuran yang sebanyak-banyaknya.

Kelebihan Sistem Pola ini adalah pada personalitasnya. Biasanya hasil pola yang dihasilkan punya bentuk shiluette yang sangat unik dan khas hanya untuk si model/klien. Tidak akan cocok untuk orang lain. Sedangkan kesulitan utamanya adalah pada tahap pengukuran. Titik-titik pada tubuh yang harus diukur membutuhkan presisi. Satu orang klien/model yang sama bila diukur oleh dua orang yang berbeda, seringkali menghasilkan angka yang berbeda. Inilah sebabnya biasanya yang mengambil ukuran dan orang yang membuat pola adalah satu orang yang sama.


Sistem Proporsi.
Sistem Proporsi adalah Sistem Pola yang pembuatan polanya didasarkan pada hanya ukuran-ukuran dasar yang kemudian diformulasi dengan menggunakan rumus-rumus tertentu. Ide dasarnya adalah untuk mencari bentuk/shape se-proporsional mungkin. Misalkan untuk menentukan posisi Garis Dada, maka bila menggunakan sistem ini, digunakan rumus-rumus tertentu, seperti [Lingkar Dada : 4 - 1] (setiap Tailor biasanya punya rumus/formula sendiri). Oleh karena itu, ukuran yang diambila bila menggunakan Sistem Pola Proporsi ini biasanya hanya ukuran-ukuran dasar. Semisal Lingkar Dada, Lebar Bahu, Lingkar Pinggang, Lingkar Pinggul, Panjang Baju dan Lengan bila untuk kemeja atau jas. Untuk ukuran lainnya, diolah dari ukuran-ukuran dasar tersebut.

Kelebihan Sistem ini ada pada kemudahan dan keamanannya. Aman yang dimaksud adalah bentuk yang dihasilkan biasanya tidak akan jauh dari bentuk standard. Kesulitannya adalah ketika bertemu dengan figur/atau postur yang tidak umum. Karena seringkali rumus-rumus yang digunakan akan tidak match/klop dengan bentuk orangnya.

Sistem Campuran.
Sistem campuran adalah Sistem Pola yang mengkombinasikan antara Sistem Langsung dan Sistem Proporsi. Untuk Sistem ini, ukuran yang diambil, selain ukuran dasar, juga diambil ukuran-ukuran tambahan. Semisal Lebar Dada, Lebar Punggung bawah dan lain sebagainya.

Sistem Campuran inilah yang lazim digunakan oleh Tailor-Tailor saat ini. Karena selain mempertimbangkan proporsi tubuh, juga tetap memperhatikan figur/postur si klien/model.

Setiap Sistem Pola punya kelebihan dan kekurangan tersendiri. Masing-masing punya cara yang berbeda ketika berhadapan dengan figur/postur tertentu. Tidak bisa dikatakan bahwa Sistem A atau Sistem B yang terbaik. Pada akhirnya akan kembali pada kecocokan selera Si Tailor dan Si Pelanggan.

Salam Pembelajar.

Saturday, July 15, 2017

Mengurai benang kusut perbedaan Interfacing dan Underlining

Perbedaan antara interfacing dan underling
Salam,
Beberapa istilah dalam tailoring bisa sangat membingungkan, bahkan bagi kalangan tailor itu sendiri. Salah satu diantaranya adalah Interfacing dan Underlining. Perbedaan istilah antara keduanya memang sama ruwetnya dengan benang yang kusut. Sulit untuk mengurai-kannya. Perbedaan ini semakin membingungkan karena seringkali merujuk pada benda yang sama. Satu benda yang sama, bisa disebut sebagai Interfacing juga bisa disebut sebagai Underlining. 

Lalu bagaimana cara membedakannya?
Mari kita urai satu persatu. Pertama, kita lihat definisi masing-masing.

  • Underlining adalah bahan pelapis yang diletakkan dibalik bahan utama sebagai penguat dan atau pengeras bahan utamanya.
  • Interfacing adalah bahan pelapis yang yang diletakkan dibalik bahan utama sebagai pemberi bentuk atau pembuat struktur.

Masih bingung?
Baiklah mari kita urai lebih dalam lagi. Dari definisi diatas, kita bisa membuat persamaan dan perbedaan antar keduanya.

Persamaan :
  • Keduanya adalah bahan pelapis yang diletakkan dibalik bahan utama (disisi buruk kain)
  • Keduanya bisa berupa fusible (berperekat) dan non-fusible (tidak berperekat)

Perbedaan :
  • Underlining  berfungsi sebagai penguat bahan utama. Artinya, underlining diletakkan dibalik seluruh bahan utama dan kemudian diperlakukan sebagai satu dengan bahan utama. Jadi, bahan utama dan underliningnya ini dianggap sebagai satu bahan.

Sedangkan,
  • Interfacing berfungsi sebagai pembentuk struktur. Artinya ia diletakkan hanya di sebagiannya saja. Yaitu pada bagian-bagian tertentu yang memerlukan bentuk atau struktur tertentu. Jadi, interfacing diperlakukan terpisah dengan bahan utama.

Dari perbedaan diatas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa perbedaan antara Interfacing dan Underlining adalah pada Fungsi dan diletakkannya diseluruh bahan atau bagian tertentu saja.

Sekarang mari kita ambil contoh bahan pelapis yang paling membingungkan, Tricot.

Apakah tricot itu Interfacing atau Underlining?
 Jawabannya, keduanya betul. Tricot bisa disebut interfacing dan juga bisa disebut sebagai underlining. Tergantung ia difungsikan sebagai penguat bahan atau sebagai pemberi bentuk. Kemudian apakah ia diletakkan dibalik seluruh bahan atau hanya dibagian-bagian tertentu saja. 

Bila tricot ini difungsikan sebagai penguat bahan utama dan diletakkan dibalik seluruh bahan utama, maka pada saat itu Tricot ini disebut sebagai Underlining

Bila tricot ini difungsikan sebagai pemberi bentuk dan diletakkan di sebagian bahan utama, maka pada saat itu Tricot ini disebut sebagai Interfacing.

Mudah, Kan?

Catatan tambahan : Perbedaan paling nyata  antar keduanya akan terlihat ketika bahan pelapis yang dipakai adalah non-fusible (tidak berperekat).

Mudah-mudahan benang yang kusut telah terurai

Salam Pembelajar

Thursday, February 23, 2017

Pakaian ; Dibuat untuk anda, bukan sebaliknya.

Pakaian adalah sesuatu berbahan kain atau serat yang dikenakan oleh tubuh.Dari definisi diatas bisa dipahami fungsi utama Pakaian adalah sebagai pelindung/penutup tubuh dari lingkungan sekitar. Seperti panas, dingin, terpaan angin dan lain sebagainya (termasuk dari lirikan anda ....hehe)

Disamping fungsi utama ini, berkembang pula fungsi/nilai lain dari pakaian. Seperti nilai estetika, fungsi penunjuk identitas (seragam sebuah institusi), pembeda status sosial dan fungsi/nilai lain sebagainya.

Karena blog ini mengkhususkan kontennya di bidang Tailoring, maka kami tidak akan merinci satu persatu nilai/fungsi tersebut. Kami hanya (berusaha) menuliskan definisi Pakaian(dan juga istilah-istilah lain yang berada dalam label "Terma" di blog ini) dan fungsi/nilainya dalam  pengertian yang dipahami dalam dunia Tailoring.

Definisi gampangnya (dalam dunia Tailoring), Pakaian adalah "produk yang dihasilkan oleh Tailor dalam proses Tailoring". Definisi sederhana (dan ngasal) ini mungkin kurang tepat dan tidak akan anda temukan di kamus.Namun untuk keperluan penyamaan perspektif, ketika kami menuliskan kata Pakaian, maka yang dimaksud adalah merujuk pada definisi diatas.

Istilah (resmi) lain dari Pakaian yang sering digunakan dalam dunia Tailoring adalah Clothing. Pemakainya disebut Clothier.

Dalam Tailoring, Pakaian/clothing  adalah hasil komunikasi dua arah antara Clothier/Pemakai dan Tailor. Dalam prosesnya, pertama Tailor akan mencatat preferensi (termasuk permintaan style) yang di inginkan, Dilanjutkan dengan pengambilan ukuran.

Setelah itu Tailor akan menerjemahkan ukuran dan preferensi tersebut ke dalam bentuk gambar/pola, dilanjutkan dengan menjahit pola tersebut sekedarnya.
Setelah itu Pemakai/Clothier akan diminta melakukan fitting untuk memastikan bahwa pola yang telah dijahit tadi sesuai dengan tubuh dan preferensi yang diminta.
Jika dan hanya jika pola yang difitting ini telah benar-benar sesuai, baru proses akhir untuk penyelesaian pakaian ini bisa dilakukan.

Inilah kenapa Pakaian hasil Tailoring membutuhkan proses yang lama. Tetapi proses yang lama (juga dana) inilah yang pada akhirnya akan menghasilkan Pakaian yang lebih fit (sesuai) untuk anda.
Bila industri garment membuat pakaian untuk bisa dibeli-pakai siapa saja, maka dalam Tailoring, Pakaian hanya dibuat untuk anda dan hanya anda seorang.
atau dalam bahasa lain, Pakaian menyesuaikan tubuh anda, bukan sebaliknya